dibalik tabir cakrawala malam
yang serasa kian gulita, senyap dan
pengap
bersama senyumku yang pupus dibibir
ini
padahal semuanya telah aku
usahakan,
agar aku tak hanyut pada kerinduan
yang terus menerus mengharu biru
namun serasa sekeping hati ini
tak mampu menanggung beban kecewa
tak mampu menanggung beban kecewa
dari sebuah
harap yang tak kunjung tuntas
sudah terlalu letih aku mencari,
sudah terlalu jemu aku menunggu
lahirnya bentuk cinta sejati yang hakiqi
yang
tak perlu bersimbah kepura puraan
berpuluh fajar kesenja aku belajar
mencari tahu
dimana ujungnya rindu, dimana tepinya sepi
dulu aku tak ubahnya.........
ibarat
Shilhouete Bukit Bukit Biru
yang subur dengan kasih sayang,
yang rimbun dengan canda tawa bahagia
rasa cinta kala itu tertanam
mengakar melingkar pantang tumbang,
meski pucuk pucuk daun cintaku
kadang terluka karena tersengat api cemburu
tapi semua kini sirnalah sudah,
tatkala bisa pesona cintamu
meracuni diriku,
racun asmaramu tak tertembus oleh
kasat mata nalarku,
tak tertangkap oleh telingaku dan
tak teraba oleh indraku
yang membuat sekarang ini hatiku terluka
tapak tapak
cintaku membekas duka lara dan petaka.
Alunan kehampaan jiwa
selalu membahana beriring kidung sendu
selalu membahana beriring kidung sendu
kini aku tak ubahnya
bagaikan sang
kembara penebar kata cinta
padahal cintaku telah terpenggal
ditengah jalanan
Rimba Tepian Cerita Waduk Darma
PenaKataHati dalam Urai Luka
22 Juli 2010

