Aku biarkan corak perasaan ini ruah membuncah
bagai buih buih putih di tepi sebuah dermaga
Aku anggap urai kata ini sebagai larutan antara penyakit dan obat
Aku ibaratkan ungkap kata ini sebagai kesaksian
antara dosa dan pengampunan
Akulah ilusi sekeping hati
yang ingin terbebas dari menghamba sendiri dalam sunyi
ungkapan kata ini terlahir dari sekeping hati
yang tak ingin terbengkalai oleh
hancurnya seuntai harapan
sebagai wakil kata hati yang menghujam
sebagai wakil kata hati yang menghujam
diantara titik embun yang menempel
diantara pucuk pucuk daun malam
Aku pendarkan tiap kalimat kerinduanku
diantara pucuk pucuk daun malam
Aku pendarkan tiap kalimat kerinduanku
dibinar cahaya rembulan yang
bersedia mewakili
kerisauanku atas nama sepi
aku tasbihkan seuntai harapan dan doa
kerisauanku atas nama sepi
aku tasbihkan seuntai harapan dan doa
dibinar cahaya bintang yang
bersedia
menyampaikan harapan yang tak pernah sirna
Sebaris harap belum juga melarut
tapi ini melebihi butir demi butir asa yang aku tebarkan
walau maknanya tak seperti semula tapi aku telah mencoba
Rimba Tepian Cerita Waduk Darma
IKHA Awal Pebruari 2011
menyampaikan harapan yang tak pernah sirna
Sebaris harap belum juga melarut
tapi ini melebihi butir demi butir asa yang aku tebarkan
walau maknanya tak seperti semula tapi aku telah mencoba
Rimba Tepian Cerita Waduk Darma
IKHA Awal Pebruari 2011

