berkembara berbekal
segenggam harap
dapat merenda asa yang
masih tersisa
dengan biduk yang masih aku miliki
aku coba mengembara berkelana
berharap dapat mengantarkan sajak sajak jiwa
yang seiring sejalan dengan perjalanan hidupku
walau curahan suara hati ini
tak semerdu buluh buluh perindu
bagiku tiada mengapa
yang penting aku telah mencoba
yang seiring sejalan dengan perjalanan hidupku
walau curahan suara hati ini
tak semerdu buluh buluh perindu
bagiku tiada mengapa
yang penting aku telah mencoba
dumai....!
dulu aku tak ubahnya bagai
Shilhouete Bukit Bukit Biru
yang tumbuh subur pantang tumbang
dulu daun daun harapku selalu
meliuk liuk
melantunkan senandung lagu merdu
dumai...!
dulu batang batang harapku,
senantiasa bergoyang mendendangkan
nada nada sayang
dulu pucuk pucuk harapku tumbuh
tiap waktu
menghembuskan sayup sayup lagu
rindu
dumai....!
dumai....!
dulu saat melantunkan lagu rindu
suaraku merdu,
tapi kini suaraku telah berubah
kelu
dulu saat terdengar kata sayang
hatiku terasa riang,
tapi kini pendengaranku terasa
sumbang
Rimba Tepian Cerita
IKHA (30 Mei 2010)

